BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) secara resmi meluncurkan Center for Mental Health and Social Well-being (CMHS) sebagai langkah strategis dalam merespons kompleksitas permasalahan kesehatan mental dan psikososial di masyarakat. Pada Sabtu (28/3). Bertempat di Aula Gedung D Fakultas Kedokteran USK.
Momen bersejarah ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara empat fakultas di lingkungan USK dengan dua mitra internasional terkemuka, yakni DIGNITY (Danish Institute Against Torture) dari Denmark dan CSPV (Center for the Study and Prevention of Violence) dari University of Colorado Boulder, Amerika Serikat.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK, Prof. Dr. Mudatsir, M.Kes., Selaku Perwakilan USK menyampaikan bahwa pendirian Center for Mental Health and Social Well-being (CMHS) merupakan respons strategis terhadap kompleksitas permasalahan kesehatan mental dan psikososial di masyarakat. Menurutnya, dinamika perubahan sosial yang cepat, urbanisasi, serta kerentanan pada kelompok anak dan remaja menuntut pendekatan ilmiah yang lebih komprehensif dan kolaboratif.
Ia menambhakan, CMHS juga hadir sebagai pusat riset interdisipliner unik yang menyatukan kekuatan empat fakultas di lingkungan USK, yaitu Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, FISIP, dan Fakultas Hukum. Kolaborasi ini bertujuan menciptakan pendekatan ilmiah yang komprehensif, mulai dari aspek medis hingga perlindungan hukum dalam menangani ketimpangan sosial dan kekerasan di masyarakat.
“CMHS adalah wadah kolaboratif (collaborative hub) yang menjembatani pengetahuan, praktik, dan kebijakan. Penandatanganan hari ini mempertegas komitmen USK dan mitra global untuk menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat melalui riset berbasis bukti (evidence-based),” ujar Mudatsir dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa CMHS berfungsi sebagai wadah kolaboratif (collaborative hub) yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan. Kehadiran lembaga ini diharapkan mampu memperkuat jejaring global untuk menjembatani kesenjangan antara teori ilmiah, kebijakan pemerintah, dan praktik nyata di lapangan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas
“Melalui penandatanganan kerja sama hari ini, kita tidak hanya meluncurkan sebuah pusat riset, tetapi juga memperkuat jejaring global untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan, kebijakan, dan praktik nyata di lapangan demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa CMHS bukanlah sekadar hasil dari sebuah proyek penelitian sesaat, melainkan sebuah warisan (legacy) yang berkelanjutan. Program ini didukung penuh oleh Fondation Botnar dengan misi utama menginspirasi perubahan positif bagi generasi mendatang melalui pendekatan yang berbasis bukti (evidence-based) namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya lokal.
Sebagai penutup, perwakilan USK itu menegaskan bahwa CMHS hadir untuk menjawab tantangan kesehatan mental yang mendesak dengan standar ilmiah yang tinggi. Dengan dukungan kemitraan internasional dan semangat lintas disiplin, pusat riset ini diharapkan menjadi pionir dalam melahirkan kebijakan publik yang lebih inklusif dan solutif bagi permasalahan sosial di Indonesia.

