Lhokseumawe – Sore itu, Selasa 18 Maret, suasana di sekitar Islamic Center Lhokseumawe begitu ramai. Ratusan warga menumpahkan ruah, berburu takjil di deretan lapak pedagang yang memenuhi jalanan sekitar kawasan ikonik kota itu. Di antara mereka, Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, hadir tanpa sekat, berbaur dalam keramaian.
Didampingi Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, dan istrinya, Yulinda, Marlina awalnya hanya ingin melihat-lihat suasana pasar takjil yang menjadi pusat aktivitas warga setiap Ramadhan. Namun, suasana hangat dan antusiasme masyarakat menarik perhatiannya.
Di halaman Islamic Center, warga yang sudah selesai berburu takjil tampak sibuk menggelar alas duduk, bersiap berbuka puasa bersama. Pemandangan ini membuat Marlina tersenyum. Ia mendekati sebuah lapak kanji rumbi—bubur khas Aceh yang rutin dibagikan gratis oleh panitia Islamic Center setiap Ramadhan.
Tanpa ragu, ia langsung mengambil peran sebagai petugas dadakan. Dengan cekatan, Marlina menuangkan kanji rumbi ke mangkuk dan kantong plastik yang diulurkan oleh warga.
“Sep atau Tamah Lom?” tanyanya dalam bahasa Aceh, menanyakan apakah warga ingin menambah. Setiap jawaban yang meminta tambahan langsung diikuti dengan senyum.
Warga yang mengantre bersama anak-anak mereka tampak senang. Mereka menerima kanji rumbi sambil mengucapkan terima kasih, beberapa di antaranya menyempatkan diri berbincang sejenak dengan Marlina.
Dari lapak kanji rumbi, Marlina dan rombongan melanjutkan langkah ke deretan pedagang takjil. Ia membeli aneka makanan untuk berbuka, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan dibagikan langsung kepada warga yang ditemuinya.
Saat waktu buka kian dekat, Marlina seharusnya menuju Pendopo Wali Kota, tempat berbagai hidangan telah disiapkan. Namun, langkahnya terhenti. Ia menatap kembali halaman Islamic Center, di mana ratusan warga duduk bersama menunggu di atas tikar plastik sederhana, adzan magrib berkumandang.
Alih-alih pergi ke pendopo, Marlina memilih duduk bersama mereka. Ia menghamparkan alas seadanya, menyatu dengan masyarakat, menikmati suasana berbuka yang penuh kebersamaan. Keputusannya itu menarik perhatian banyak orang. Warga pun antusias, tak sedikit yang meminta swafotonya.
Bagi Marlina, Ramadhan adalah tentang kebersamaan, bukan tentang protokoler atau kehormatan jabatan. Malam itu, ia membuktikan bahwa pemimpin sejati bukan hanya mereka yang duduk di ruang mewah, tetapi juga yang hadir di tengah rakyat, berbagi kebahagiaan dalam kesederhanaan. []

