![]() |
Foto: Zul/ToA |
Banda Aceh | ToA – Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf menerima delegasi para guru honorer, di ruang kerjanya, Rabu 28/02/2018. Dalam pertemuan itu, mereka meminta guru memperjuangkan aspirasi mereka, yaitu memperoleh SK pengangkatan dari status pegawai honorer menjadi pegawai negeri. Gubernur Irwandi menyebutkan, dirinya akan mengupayakan untuk menyampaikan langsung aspirasi para guru honorer kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).
Dulunya, disebutkan bahwa mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah, juga sudah mengirmkan surat ke Manpan RB. Namun tercatat sudah empat kali berganti menteri, data para guru hasil seleksi dari Panselnas itu belum juga diverifikasi. “Mungkin karena terlalu sering berganti menteri. Tapi saya juga akan buat surat dan kemungkinan akan saya antar sendiri sore nanti,” ujar Gubernur Irwandi yang ditemani penasihat khusus Pemerintah Aceh di bidang ekonomi dan perbankan, Adnan Ganto.
Irwandi menyebutkan, dirinya turut prihatin dengan apa yang menimpa para guru honorer tersebut. Ia menyebutkan akan memperjuangkan aspirasi para guru honorer yaitu pengakuan negara atas darmabakti mereka, dengan menghadap langsung dan menyampaikan keluhan para guru itu di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. “Akan saya perjuangkan tapi saya tidak berani berjanji,” kata Irwandi.
Dalam pertemuan itu, gubernur turut menyoroti mutu pendidikan Aceh, yang di tahun lalu berada di peringkat ke tiga terendah dari provinsi lain di Indonesia. Padahal, dari sisi anggaran pendidikan, Aceh menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk pembiayaan dan peningkatan mutu pendidikan. Sebanyak 20 persen dari anggaran APBA dialokasikan langsung oleh Pemerintah Aceh. Dalam visi-misi Pemerintah Aceh, Irwandi juga mencanangkan tiga program utama menyangkut pendidikan, yaitu Aceh Carong, Aceh Meuadab dan Aceh Teuga.
“Ajarkan sesuatu yang bermutu bagi siswa sehingga kualitas murid ikut meningkat,” pinta Irwandi pada para guru honorer tersebut.
Gubernur mengkiaskan di masanya dulu, para pendidik dari Aceh dipakai negara tetangga Malaysia sebagai pendidik, padahal fasilitas di masa itu amat terbatas. Namun kini, kata Irwandi, situasi sudah terbalik: masyarakat Acehlah yang kini belajar ke negara serumpun Melayu itu, padahal fasilitas di dalam negeri sudah semakin baik.
Kepada para guru, ia meminta agar memanfaatkan juga kemajuan teknologi, sebagai alat bantu ajar bagi siswa sehingga mutu pendidikan di Aceh meningkat dan tidak tertinggal terlalu jauh dari daerah lain di Indonesia.
“Teknologi sudah sangat tinggi. Manfaatkan sebagai pembelajaran untuk siswa,” kata Gubernur Irwandi. [ToA]