• Beranda
Jumat, April 10, 2026
No Result
View All Result
Times Of Aceh
  • Beranda
  • Beranda
No Result
View All Result
Times Of Aceh
No Result
View All Result

USK Hadirkan Pakar AS, Denmark, dan Swiss Bahas Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Sosial

Maret 30, 2026
in Aceh, Headline News, News
USK Hadirkan Pakar AS, Denmark, dan Swiss Bahas Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Sosial

BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Fakultas Kedokteran menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “International Seminar for Mental Health and Social Wellbeing Issues in Digital Era”, pada Jum’at, 27 Maret 2026.

Acara ini berlangsung di Aula Gedung D Fakultas Kedokteran USK, dan menjadi wadah strategis bagi para akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk menjawab tantangan kesehatan mental yang kian kompleks di tengah transformasi digital.

Seminar ini menghadirkan tiga pakar internasional sebagai pembicara utama (keynote speakers): Shr-Jie Sharlenna Wang, Ph.D., peneliti senior dari DIGNITY – Danish Institute Against Torture, Denmark, dan Sabrina Arredondo Mattson, Ph.D., peneliti senior dari Center for the Study and Prevention of Violence (CSPV), University of Colorado Boulder, Amerika Serikat, Morten Koch Andersen, Ph.D., Director of Research and Education dari Raoul Wallenberg Institute of Human Rights and Humanitarian Law, Swiss.

Acara ini dihadiri oleh ratusan peserta yang antusias mendalami isu keamanan digital, pencegahan kekerasan, dan promosi kesejahteraan sosial di era modern. Seminar ini merupakan bagian dari penelitian kolaborasi multi benua dan multi tahun yang telah diinisiasi sejak 2019 antara Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, dengan DIGNITY, CSPV Colorado University, University of Copenhagen dan Universitas Indonesia.

Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik USK Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya membawa peluang, tetapi juga risiko baru terhadap kesejahteraan sosial, khususnya bagi kelompok rentan.

“Tantangan ini menuntut pendekatan yang lebih terpadu dan lintas disiplin. Kesehatan mental tidak lagi bisa dianggap sebagai isu sampingan, melainkan pilar utama dalam membangun sistem kesehatan masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Agussabti di hadapan para peserta.

Inisiatif penelitian ini, kata Agussabti juga menjadi langkah awal dalam penguatan Center for Mental Health and Social Wellbeing Research (CMHS) atau Pusat Riset Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Sosial di USK yang akan diresmikan besok. Pusat riset ini diproyeksikan menjadi platform unggulan untuk penelitian interdisipliner, advokasi kebijakan, dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat di masa depan.

Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi yang luar biasa kepada tim peneliti USK dibawah koordinasi, Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH dan Dr. Haiyun Nisa, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Co-Principal Investigators atas dedikasi dan peran strategis mereka dalam menginisiasi kolaborasi internasional ini.

Melalui seminar ini, Agussabti menegaskan komitmennya sebagai institusi akademik yang tidak hanya menghasilkan riset berbasis bukti (evidence-based), tetapi juga mampu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan, kebijakan, dan praktik di lapangan.

Kolaborasi dengan mitra internasional seperti DIGNITY dan CSPV Colorado University serta Raoul Wallenberg Institute, diharapkan dapat melahirkan solusi yang kontekstual bagi Indonesia sekaligus tetap berwawasan global.

Peneliti senior dari DIGNITY, Sharlenna Wang, Ph.D selaku pembicara pertama, dalam paparannya menyoroti hubungan erat antara urbanisasi dan kesehatan masyarakat di perkotaan (urban health).
Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan kota yang pesat serta transformasi digital di wilayah urban berdampak pada kesejahteraan sosial, termasuk memengaruhi akses layanan kesehatan mental bagi kelompok masyarakat marginal.

Kemudian pembicara selanjutnya, yang merupakan Peneliti senior dari CSPV Colorado University, Sabrina Arredondo Mattson, Ph.D membedah isu pencegahan kekerasan (violence prevention) melalui lensa data komprehensif di Amerika Serikat, dengan materi berjudul “Safe Communities Safe Schools (SCSS): Adaptation and Implementation in Indonesia”.

Sabrina memaparkan strategi pencegahan kekerasan berbasis data serta penerapannya dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman di Indonesia. Ia menjelaskan model identifikasi risiko kekerasan sejak dini dan bagaimana intervensi yang efektif dapat diadaptasi untuk mendukung terciptanya lingkungan sekolah dan komunitas yang aman.

Sementara itu, untuk melengkapi perspektif keamanan, Direktur Riset dan Pendidikan dari Raoul Wallenberg Institute, Morten Koch Andersen, Ph.D., menyampaikan materinya secara virtual dengan judul “Analysis of Social Networks and Peer Contagion in Terrorism Related Offences in Indonesia”.

Morten menjelaskan bagaimana jaringan sosial dan pengaruh teman sebaya dapat memengaruhi seseorang terlibat dalam tindak pidana terorisme. Ia menekankan bahwa isu ini memang sensitif, namun sangat penting untuk dipahami, terutama di era digital saat ini.

Next Post
USK Resmikan CMHS, Perkuat Kolaborasi Global Kesehatan Mental

USK Resmikan CMHS, Perkuat Kolaborasi Global Kesehatan Mental

No Result
View All Result

Pos-pos Terbaru

  • M. Nasir Buka Forum Konsultasi Publik RKPA 2027, Dorong Pembangunan Tangguh dan Sinergi Pusat-Daerah ‎
  • Sampaikan LKPJ 2025, Mualem Dorong Pembangunan Berkelanjutan
  • Wagub Aceh Fadlullah Dampingi Mendagri, Tegaskan Percepatan Pemulihan di Aceh Tamiang
  • Ikut Entry Meeting BPK RI, Gubernur Aceh Dukung Penuh Pemeriksaan LKPD 
  • Wagub Aceh Fadhlullah Ambil Langkah Cepat Mediasi Konflik Pimpinan Pidie Jaya, Bupati–Wabup Sepakat Damai dan Berangkulan
Times Of Aceh

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Headline News
  • Aceh